18.4.06
17 Trip 4
[pob.01.04] up to FPSO, room 517. Classroom maintenance. Exercise.
Jam 6 ½ kami terbang dengan helikopter ke FPSO, perjalanan kedua kami ke fasilitas mengapung terbesar di Indonesia itu. Kami ditempatkan di kamar 517. mengingat pengalaman kunjungan sebelumnya, kami meminta kepada koordinator kegiatan offshore agar materi yang disampaikan kepada kami dipadatkan dalam waktu satu pekan saja. Siang itu kami belajar sistem maintenance bersama pak Taufik Hidayat.
[pob.02.04] morning meeting. HSE weekly meeting. Touring maintenace. Pindah kamar 416 & 411.
Setelah morning meeting, disampaikanlah laporan mingguan HSE dan memberi penghargaan untuk pekerja yang aware terhadap HSE. Pak Michael Louis menyampaikan cara penggunaan breathing apparatus untuk penyelamatan diri.
Pagi itu ditemani pak Taufik dan pak Yusuf, kami melakukan touring untuk peralatan yang menjadi objek maintenance.
Melalui telepon, kami diberitahu untuk berpindah kamar tidur, saya dan bagus ke 416, sedangkan bayu ke 411. Kami bersyukur atas perpindahan kamar ini, karena di kamar baru ada pesawat telepon, yang memudahkan kami melakukan komunikasi dengan keluarga lebih dekat.
[pob.03.04] morning meeting. Alarm drill. Classroom maintenance planner. PROPER Preparation report. Classroom System overview. Sickbay.
After morning meeting, alarm drill was broken, we gathered in our muster station and waiting for commander’s instructions. And dismissed when its over. Today our classroom subject is about maintenance planner with pak Madi Hakim and pak Agus Supriyanto.
In the afternoon, we follow the PROPER Preparation Report meeting. The Preparation Team had been conducted inspection to meet PROPER requirements since Saturday to Monday and asked to give report of their foundings and suggestions to the champions of FPSO.
After coffeebreak, we continue our classroom with System Maintenance team, lead by pak M Yusuf, followed by pak Bagus Wibowo, pak Deden and also pak Yasid from Honeywell.
When the class over, I came to the sickbay to have consultation with dr Ketut Karnala about the allergic indications.
[pob.04.04] morning meeting. Business audit opening.
Today, the unit business team come to conduct a Tier-2 Audit for FPSO. Not much we can do, because everyone is busy, so we just keep ourselves in business.
[pob.05.04] morning meeting. Classroom POB management.
Let’s have a tidy workplace!
The slogan was campaigned by the manager, to remind the workers to keep the cleanliness and tidiness of FPSO.
Pak Luki Tjahjadi gave us POB Management System as our classroom subject.
[pob.06.04] morning meeting. Warehouse touring. Marine and services overview. Classroom maintenance mechanic. Exercise.
After morning meeting, we met pak Tony Jujur to give us warehouse touring. Then we came to pak Peter Pattihahua and Capt. Dwiyono for Marine and services overview. In the afternoon, pak Wardoyo give us a lesson for mechanic maintenance.
In FPSO, almost everyday for more than one hour, we use the gym for exercise. To maintain our body mass and keep healthy.
[pob.07.04] mentoring program. Presentasi.
In the forenoon, we met Troy Jenkins and pak Tresna Lesmana to have discussion about mentoring program. And we have some suggestions for the program, as our commitment to develop national workers competencies.
n Mentoring program from expatriates
• Mentoring mandate information
• Guidance of implementation, curriculum & achievement target of mentoring
• Assessment of the program successfulness & reporting supported by documentation & certification
• Commitment from mentor & mentee for mentoring program under Manajemen (FM or DFM) supervision.
• Intensify open communication & feedback between mentor and mentee
n Recruitment program
• Provide equal opportunity for fresh graduate and expertized personnel with proporsional precentage to ensure continuous knowledge transfer.
At about 7 ½ pm, we were asked to give presentation for what we’ve get and take from the FPSO and also we were asked to give ideas and knowledges about the concept of oil and gas production sharing contract.
**
16 Trip M-3
[pob.26.03] sunrise at Payalaman. Diskusi di messhall. Main tennis.
Sebagaimana hari sebelumnya setelah salat subuh, kami berangkat ke dermaga payalaman mengejar suasana matahari terbit di dermaga. Tak lupa membeli jajanan ketika melewati kedai penjaja makanan tradisional untuk kami makan di dermaga.
Siang yang terik, di dalam messhall berlangsung diskusi seru antara kami dengan pak Arifin dan dr Juri. Sore yang sumuk digunakan untuk menguras keringat dengan bermain tennis.
[pob.27.03] Matak ERP Review meeting at training room
Sementara bayu dan bagus bermain tennis, saya mengikuti pertemuan di ruang training. Pertemuan tersebut membahas perencanaan tanggapan keadaan darurat untuk Matak Base. Pembahasan yang dilakukan hanya melakukan review berdasarkan template yang sudah dibuat oleh perusahaan disesuaikan dengan kondisi Matak Base. Pembahasan yang memakan waktu 3 jam itu dihadiri oleh setiap champion.
Berbeda dengan kemarin, siang itu Matak diguyur hujan dan terus berlangsung sampai malam hari.
hujan mengguyur pulauku..
sejenak teduhkan suasana,
dada yang terbakar kangen,
kepada kasihnya
yang menatap gerimis
dari balik jendela
”tenanglah,” bisik bulan sabit
yang mengintip di balik terang mega,
”detik mengejar masa tinggal sekejap,
tak perlu kau risau,
dia dalam pengawasan-Nya”
mentari pasti kembali bersinar,
hembus angin mengusir mendung hati
yang terusik dan kembangkan senyum
untuk kekasih yang sabar menanti
iluvu
[pob.28.03] makan seafood di Payalaman.
Sore itu bagus pergi bersama Johan ke ds Langir untuk membeli ketam dan kerang, sedangkan bayu bersama wiwin makan jambu air di rumah pak bukhari di ds. Gunung Cak. Saya masih asyik dengan internet di kantor Matak Base.
Malam itu kami berlima bersama Era, insinyur sipil untuk perawatan base, berangkat ke rumah pak Herman, kakaknya Johan, di ds Payalaman untuk makan malam, menyikat habis ketam dan kerang yang direbus, dan dihidangkan dengan sambal Bugis.
[pob.29.03] presentasi proses pengadaan. Airport & Traffic activities. Jalan ke Langir.
Ketika saya dan bagus bermain tennis, bayu diminta melakukan presentasi mengenai proses pengadaan di ruang pertemuan pada morning meeting. Menjelang siang, kami mengunjungi pak Fredy Yuniansyah sebagai Airport Supervisor untuk mendapatkan penjelasan mengenai pekerjaan yang berkaitan dengan airport.
Tugas utama airport Matak Base adalah mengoordinasikan penerbangan fixwing dan rotating wing berdasarkan permintaan pengguna jasa penerbangan. Kami juga mengunjungi airport dan melihat aktivitas despatcher, di hanggar kami menemui para pilot helikopter, dan juga ke menara melihat aktivitas radio operator.
Sore hari kami pergi ke ds. Langir, tak lupa mampir ke rumah pak Amir untuk makan kelapa muda. Sampai di desa Langir kami terus menuju dermaga Langir dan menikmati senja, serombongan bangau pulang ke sarang, sedangkan kelelawar keluar mencari makan.
Setelah menunaikan salat magrib di masjid, kami menuju rumah pak Safri, di sana hidangan seafood telah menanti. Kami segera kembali ke base sebelum jam 9 malam.
[pob.30.03] mengunjungi lokasi tangki dan incinerator. Melihat sumber air bersih. Clinic. Jalan sore. Menikmati bintang di ujung runway.
Berencana pagi itu kami ke Terempa, sesampainya di dermaga Payalaman, kami dapati ramai orang sudah memenuhi pompong reguler, berikut juga pompong tambahan. Rupanya itu hari libur nasional, ditambah para pelajar akan melakukan perjusami keesokan harinya, sehingga ramai orang pergi berbelanja ke Terempa. Kami tidak jadi berangkat dan akhirnya kembali ke base setelah sarapan di kedai dekat dermaga.
Sesampai di base, setelah berbenah, kami menemui pak Arifin yang hari itu mengajak kami menengok rencana lokasi tangki dan incinerator. Dari lokasi tersebut kami menengok sumber air bersih yang menjadi reservoir bagi kebutuhan air di base. Lokasi mata air terlindung dengan baik dan tumbuh di sekitarnya tanaman pandan yang membuat harum suasana.
Kami menuju klinik untuk memberi ucapan selamat kepada dr Ary yang diangkat menjadi chief medical support. Setelah lebih dari 8 tahun mengabdikan profesinya di Matak, dan setelah tiada lagi orang yang memenuhi persyaratan menjadi chief medical, dr Ary diberikan amanah tersebut.
Sore itu, dengan sepeda motor kami pergi menyusuri pantai pulau Matak. Dari Matak Base kami ke Masjid Raya Payalaman, mengambil jalan ke Batu Ampar, dilanjutkan ke arah Putik, Ladan, Tebang, menyeberangi jembatan kayu ke Candi, Teluk Gali, Piabung dan terakhir ke dermaga Kampung Baru. Setelah mengambil gambar dan menikmati senja, menjelang magrib kami kembali ke base.
Saya dan bagus berhenti di Masjid Raya untuk menunaikan salat magrib. Keluar masjid, kami bertemu dengan dr. Ary. Kami bertiga kembali ke base dengan mobil. Di messhall, diskusi mengenai Gie dan idealisme bersama dr Ary berlangsung selama makan malam.
Malam itu, dr Ary membawa berkat dari acara pengajian di masjid, setelah mampir di rumah Rais di payalaman, saya mengajak bayu dan wiwin ikut bersama dr Ary ke ujung runway. Bagus sudah nyenyak di kamar. Ngemil kue berkat dan berbual-bual di atas selimut yang dihampar di atas aspal, menikmati bintang-bintang di langit ditemani musik oldies yang mengalun dari tape mobil dr Ary.
Bercerita tentang iqbal, anak asuh dr Ary, berbual tentang humor jenaka, berkisah tentang negeri segantang lada, dan terlelap dalam asuhan malam. Sekitar jam 1 ½ pagi, langit menitikkan gerimis, kami segera bangkit dan masuk ke mobil, melanjutkan tidur di kamar.
[pob.31.03] main tennis. Presentasi. Ke Terempa. Syukuran di TK Anoa.
Bermain tennis lagi, nonton film Gie yang dipinjamkan oleh dr Ary. Setelah salat jumat dan makan siang, kami diminta menyampaikan presentasi di training room. Selesai pada waktu ashar, kami diminta bersiap-siap untuk jalan ke Terempa. Dengan speed boat seharga mercedes, kami bertiga, pak Arifin, dr Ary, Era dan Wiwin serta pak Yusuf meluncur ke Terempa. Menikmati senja di ibukota kecamatan Siantan. Kegiatan sore hari penduduk kota itu di antaranya bernyanyi karaoke, berolahraga di antaranya bermain tennis, bola kaki dan sepak takraw, ada juga yang berjoging.
Menjelang petang, kami makan mie di kedai dekat dermaga. Pulang dari Terempa, kami mengalami petualangan melaut, berpapasan dengan kelelawar yang terbang melintasi speedboat kami, dan berayun dahsyat di akar bergayut. Di sebut begitu karena ombak mengayun boat kami dengan luar biasa, selain itu lokasi akar bergayut berada di atas palung laut. Alhamdulillah, kami sampai di base dengan selamat.
Malam itu kami diundang untuk mengikuti acara syukuran di TK Anoa, mensyukuri dimulainya beroperasi salah sebuah anjungan produksi lepas pantai di lapangan Anoa.
**
16.4.06
15 Trip M-2
Pagi itu kami turun ke Matak bersama rombongan pak Johanes. Jam 9 kami diajak berkeliling fasilitas di Matak Base. Kami mengunjungi Warehouse, Harbour, Jetty, Hanggar, Explosive House, Airport, mendengar dari pak Johane tentang sejarah Matak dan perkembangan yang dialami. Kemudian melihat jalan ke Teluk Sunting, tetapi tidak berhasil terus karena mobil yang kami tumpangi tidak sanggup mendaki bukit, akhirnya kami kembali ke Matak Base.
Setelah makan siang, kami melanjutkan kegiatan mengunjungi Pulau Beleba, melihat terumbu karang yang dibiakkan di sana. Untuk ke Pulau Beleba, dari Matak Base kami menuju Desa Ladan, dilanjutkan perjalanan pompong. Di Pulau Beleba kami habiskan waktu sampai sore. Kemudian kami kembali dan menuju landasan menikmati senja.
Malam hari kami makan malam di rumah pak Hasnan, despatcher Airport, hidangan khas laut yaitu ketam bumbu dan pepes ikan, serta abon ikan. Sepulangnya kami mampir melihat mobile hospital di Payalaman, kemudian menuju landasan untuk menikmati bintang-bintang.
[pob.24.03] ke BLK Antang di Teluk Buluh. Ke Air Terjun di Temburun. Makan siang di Tanjung Tebu. Menikmati sunset di Pulau Langu.
Dengan boat, kami bersama rombongan pak Johanes menuju Teluk Buluh di Pulau Siantan. Setelah mampir di rumah seorang pegawai, kami berjalan ke BLK Antang. Sebuah balai latihan kerja yang dibangun oleh perusahaan sebagai program pengembangan masyarakat. Setelah setahu dibina, BLK ini diserahkan pengelolaannya oleh perusahaan kepada Depnaker. Tetapi sejak itu pula BLK ini tinggal bangunan saja. Peralatan di dalamnya tidak terawat dengan baik karena tidak ada dana untuk perawatan. Selain itu sudah jarang orang yang menggunakan BLK sebagai pelatihan. Menyedihkan..
Dari BLK kami berjalan melalui pabrik es batu. Kemudian dengan boat kami menuju Temburun. Temburun terkenal dengan objek wisata air terjun. Menuju ke lokasi air terjun dilakukan dengan mendaki bukit. Sesampainya di air terjun, pemandangan ke atas dan ke bawah sama indahnya. Memandang air terjun, mendengar percik dan riak air sangat syahdu. Memandang ke selat, pulau-pulau sangat damai. Subhanallah…
Kami sempatkan mandi di danau dan merasakan pijatan air terjun di punggung kami. Sangat segar dan menyenangkan.
Kami makan siang di Tanjung Tebu, sebuah rumah makan dan penginapan yang melakukan konservasi terhadap terumbu karang dan penyu. Kemudian kami pulang ke Matak Base dengan hati senang.
Sore hari kami dijemput untuk ke pulau Langu. Di sana kami menikmati senja dengan berenang. Ketika sedang menikmati pemandangan bawah laut, saya merasa tidak enak, kaki sulit bergerak, dan saya menelan banyak air laut, oh no... i was drowning! Untunglah beberapa orang segera menolong, walau pada mulanya tak yakin apakah saya bermain-main atau serius. Sesampainya di pantai, saya minum banyak air dan batuk.
Penasaran dengan pemandangan bawah laut yang indah, saya hendak kembali snorkling, kali ini mengenakan life vest. Dengan life vest saya merasa lebih nyaman, karena jika lelah, saya tinggal diam dan tak perlu tenggelam. Life vest membuat tubuh senantiasa mengambang. Puas menikmati keindangan terumbu karang, saya kembali ke pantai.
Sunset, kami kembali ke Base.
Makan malam dilakukan di saung barak 5, di sana telah menunggu pak Johanes dan teman-teman pekerja yang tergabung dalam Junior Focus Group. Focus Group merupakan team yang dibentuk oleh pak Johanes sebagai sarana pengembangan diri dan juga menjadi corong objektif dalam menanggapi isu yang berkembang di kalangan pekerja.
Kami diminta menjadi pembicara dalam pertemuan itu, menyampaikan kegiatan usaha hulu migas dan konsep kerja sama yang dibangun pemerintah dengan kontraktor migas.
[pob.25.03] sunrise at Payalaman. Senior Focus Group meeting. Hujan.
Pagi-pagi kami menuju dermaga Payalaman, menanti matahari terbit. Menikmati suasana pagi yang sejuk dan damai. Jam 8 ½ ditunggu di training room untuk bertemu dengan Senior Focus Group dan menyampaikan hal serupa yang disampaikan kepada Junior Focus Group. Ada perbedaan nilai dan metode penyampaian, supaya lebih mudah ditangkap maksudnya. Diskusi pun berlangsung dengan seru.
Pak Johanes dan rombongan kembali ke Jakarta pagi itu. Kami tetap berada di Matak sampai sabtu depan. Siang itu hujan mengguyur Matak.
14 Trip 3-2
Pagi-pagi sekali kami harus berangkat ke LGP karena Pan Marine boat yang akan mengantar personel ke lokasi platform dan PBSJ menjemput kami lebih dahulu. Tanpa mandi dahulu, kami menuju crane untuk personel transfer dari Intan FSO ke boat.
Pemandangan subuh sangat indah, memandang Intan FSO, tanker yang sedang tambat, LGP-DPPA, WHPB, dan lokasi platform yang jauh dalam balutan cahaya lampu.
Personel transfer dari boat ke DPPA tidak dilakukan dengan crane karena sedang diperbaiki, sehingga kami berpindah menggunakan jump rope. Kami diberitahu HLO agar kami menaruh barang di ruang rekreasi terlebih dahulu dan menuju muster station di DPPA jika terjadi alarm. Kamar untuk kami baru dipersiapkan setelah jam 10 karena tamu dari Jakarta baru akan pergi meninggalkan LGP pada jam itu.
Setelah menaruh bawaan di ruang rekreasi, saya dan bagus salat subuh di musala, kemudian menyusul bayu di messhall untuk sarapan. Setelah sarapan, kami mengalami alarm drill lagi. Kali ini hanya bersandal dan tanpa hard hat kami langsung saja menuju muster station kami di DPPA. Setelah itu dilanjutkan dengan morning meeting mengevaluasi alarm drill dan persiapan operasi hari itu.
Pagi itu kami beristirahat di musala, setelah coffee break kami diskusi dengan pak Joseph dan pak Didik di messhall mengenai pengalaman kami selama berkeliling lokasi serta rencana presentasi kami di LGP.
Siang hari kami masuk ke kamar 303 untuk beristirahat.
[pob.20.03] morning meeting. Paperwork.
Hari itu kami isi dengan paperwork saja.
[pob.21.03] presentasi 19.40 – 21.40
diskusi berlangsung seru!
[pob.22.03] ada ahli gizi. Rencana turun besok.
Indocater melakukan survei gizi para pekerja, sang ahli gizi bernama Rita Ulia mengejar para responden dengan pertanyaan makanan apa saja yang diasup oleh mereka pada waktu makan, coffe break dan saat bekerja. Dari data tersebut, Rita mengevaluasi pola makan responden berdasarkan ilmu gizi dan memberikan saran perbaikan pola makan dan jenis makanan yang diasup.
Pak Johanes Karundeng, bersama team Ethics datang memberikan presentasi di hadapan para pekerja. Beliau mengajak kami turun ke Matak untuk melihat-lihat program pengembangan masyarakat di Matak dan sekitarnya.
13 Trip 3-1
Keberangkatan kami ke MOGPU cukup santai, kami masih bisa sarapan dan berbincang di kantor Matak. Helikopter kami berangkat jam 9 ½ pagi. Sesampainya di MOGPU, hard hat Bagus tertinggal di bagasi helikopter sehingga ia harus meminjam hard hat untuk visitor.
MOGPU (Mobile Offshore Gas Processing Unit) adalah fasilitas unit pemrosesan gas yang dapat berpindah. Di sini selain memroses gas dari lapangan sekitar, ia juga menjadi muara dari lapangan-lapangan lain sekaligus pintu gerbang ekspor gas menuju ke Singapura maupun ke Malaysia.
Fasilitas MOGPU adalah fasilitas bintang lima, begitu kawan-kawan pekerja menyebutnya. Setiap koridor dilapisi karpet merah, di setiap kamar terdapat televisi, komputer dan akses internet, serta pesawat telepon. Fasilitas ini tidak didapatkan di anjungan lepas pantai lain yang telah kami kunjungi. Di ruang rekreasi terdapat PS2 serta alat karaoke. Makanan yang dihidangkan berselera nusantara lagi lezat.
Benar-benar kenyamanan bintang lima. Belum lagi karena fasilitasnya yang cukup kecil dan hanya mampu menampung maksimum ideal 35 orang, suasana kekeluargaan yang kental terasa di sini. Bagus ditempatkan di kamar 316, sedangkan saya dan Bayu ditempatkan di kamar 304.
Orientasi proses dipandu oleh pak Ery Kisnanto, plant tour dipandu oleh Ruwandy dan Kamarullah. Proses yang terdapat di MOGPU cukup sederhana, hal ini dikarenakan gas yang dihasilkan oleh sumur-sumur sekitar adalah dry gas sehingga perlakuan untuk gas export hanya untuk memisahkan gas dari air saja.
Sore hari kami diminta mempresentasikan tentang kegiatan usaha hulu migas di ruang rekreasi. Presentasi dan diskusi berlangsung selama 2 jam.
Di kamar, karena terdapat akses internet, kumanfaatkan sebaik-baiknya untuk menulis dan mengaplod data. Tidurpun menjadi lebih larut.
[pob.12.03] morning meeting, alarm drill. Internet. Diskusi dengan pak Abdillah. Presentasi.
Pagi itu morning meeting diisi tentang pencapaian kinerja HSE selama bulan januari dan februari dan pembagian reward kepada pekerja yang memenuhi kriteria kinerja.
Seperti sebelum-sebelumnya, di MOGPU kami juga mengalami alarm drill. Kali ini bertema abandon fasility, sehingga setelah dihitung personel on board sesuai dengan kartu-T, kami dipersilakan masuk ke dalam lifecapsule yang muat untuk 25 orang. Terbayang jika harus menyelamatkan diri dengan kapsul tersebut, persediaan pangan yang minim, terombang-ambing di tengah samudera, akses udara yang minim. Wah!
Bertemu dengan pak Abdillah dimanfaatkan dengan berdiskusi mengenai mentalitas orang Indonesia. Kebanyakan hanya mengeluh dan menyayangkan tanpa mau bergerak membuat perubahan mendasar pada dirinya dan sekitarnya. Kebanyakan hanya mencari kambing hitam tanpa berpikir bagaimana menyiasati nasi yang sudah menjadi bubur. Kebanyakan mau membeli tanpa mau merawat peralatan yang telah dibeli. Kebanyakan pasrah kepada zona nyaman tanpa mau mengembangkan diri yang berisiko meninggalkan zona nyaman mereka untuk lebih maju.
Sore itu dilanjutkan dengan presentasi mengenai konsep kerja sama migas yang dibangun oleh pemerintah dan kontraktor migas, berlangsung 2 jam juga.
[pob.13.03] exercise. Control room. Refrigeration System. Karaoke.
Pagi itu setelah morning meeting, kumanfaatkan waktu dengan exercise di fitness room. Lumayan untuk mencari keringat, membakar lemak dan kalori, serta mempelajari teknik baru flatting abdomen untuk mendapat sixpack dengan baik. Wah, butuh effort lebih nih ..
Kuhampiri control room untuk belajar membaca panel dan menanyakan trending system. Sore hari belajar refrigeration system pada sesi knowledge sharing, serta permasalahan yang dihadapi di refrigeration system (eg. Hydrate). Malamnya diisi dengan karaoke di ruang rekreasi.
[pob.14.03] morning meeting. Bayu pindah. Tidur siang.
Pak Abdillah turun hari itu, beliau memberi kami kenang-kenangan berupa topi. Pada hari crew change ngga banyak yang bisa dilakukan, karena semua orang disibukkan dengan kegiatan handover. Bayu pindah ke kamar 316 karena teman sekamar Bagus pulang sedangkan seseorang yang biasa di kamar 304 datang.
Saya biasa melakukan paperwork di kamar, sehingga yg dipindah adalah bayu. Bayu punya computer station di fireroom (ruang untuk fotokopi) dan bagus punya computer station di ruang rekreasi.
[pob.15.03] morning meeting. Control room. Maintenance.
Morning meeting pagi itu dipimpin oleh pak Agus Marletin, seseorang yang memiliki gaya berbeda dengan pak Abdillah. Pak Abdillah lebih suka memimpin dengan menerapkan prinsip-prinsip peraturan yang berlaku dan terkesan agak kaku walaupun sebenarnya bertujuan mempopulerkan peraturan. Sedangkan pak Agus jauh lebih cair dan tidak terlalu menggubris aturan. Ah, setiap orang punya gaya berbeda, mengapa harus dipermasalahkan?
Setelah berdiskusi dengan pak Ery, kami menuju ruang kendali, di situ saya berdiskusi dengan Kamarullah, sedangkan bayu dan bagus menuju ruang warehouse. Sore harinya berdiskusi dengan pak Mulyatno mengenai kegiatan maintenance di MOGPU.
[pob.16.03] HSE. Kitchen. Presentasi. Bagus pindah. Cari bahan drilling.
Di MOGPU tidak terdapat dokter sebagai kampiun HSE, hanya seorang mantri kesehatan yang bekerja rangkap sebagai radio operator dan HLO. Pak Mulyadi namanya, menjelaskan kepada kami dengan sangat baik semua lingkup pekerjaannya. Kemudian kami menuju kitchen dan berdiskusi dengan campboss pak Eko, membincangkan tentang sistem dan kendala yang dihadapi oleh campboss. Terutama mengenai behavior pekerja catering.
Hari itu manajer lapangan Western Hub mengunjungi MOGPU, sehingga Bagus dipindah ke 325 bersama pak Ery. Mereka dapat melanjutkan diskusi mengenai proper dan HSE lebih jauh. Pak Eko Putro sang manajer tinggal sekamar dengan Bayu di 316.
Sore harinya, kami melakukan presentasi mengenai hasil orientasi kami selama di MOGPU. Atas permintaan pak Mulyatno, saya diminta membagi pengetahuan tentang kegiatan eksplorasi dan produksi. Jadilah malam itu saya mengejar bahan di internet.
[pob.17.03] bertapa di kamar. Knowledge sharing. Diskusi dengan pak Ery.
Sepagian saya habiskan di kamar membuat bahan presentasi untuk sesi knowledge sharing sore harinya. Presentasi mengenai kegiatan eksplorasi dan produksi perminyakan sukses, para hadirin puas dengan presentasi saya. Alhamdulillah, ngga sia-sia mengurangi jatah tidur, lagipula saya jadi belajar lagi mengenai eksplorasi dan pemboran .
Malam itu di kamar pak Ery, bersama Bagus saya berdiskusi hingga larut malam, mengenai banyak hal.
[pob.18.03] bangun kesiangan. Diskusi dengan FM. Bermalam di Intan FSO.
Akibat tidur larut malam, pagi itu saya bangun kesiangan. Setelah sarapan, berkumpul di ruang rekreasi dan berdiskusi dengan pak Eko Putro. Kemudian menyambangi ruang kendali dan mengambil gambar bersama teman-teman pekerja. Siang itu kami berencana ke LGP, tetapi karena ada tamu dari Jakarta, sedangkan ruang tinggalnya terbatas, kami terpaksa menginap di Intan FSO.
Tempat bermalam kami adalah kontainer yang didesain menjadi kamar tidur 4 bed. Wah, drastis sekali perubahan kenyamanan yang kami terima di MOGPU dan Intan FSO. Ya sudah, kami harus menikmati semalam di terminal tersebut sebelum ke LGP.
Intan FSO merupakan kapal tanker yang menjadi terminal internasional, karena di Intan FSO-lah bertambat berbagai kapal tanker dari dalam dan luar negeri untuk membeli minyak. Saat kami tiba, sedang tambat sebuah tanker melakukan pengisian minyak, dan telah menunggu beberapa tanker di sekitarnya.
6.4.06
12 Sepercik Semangat dari Matak Kecil
Pulau Matak adalah salah satu pulau di kepulauan Anambas yang berada di Laut Natuna Selatan. Batuan vulkanik merupakan pondasi pulau-pulau di Anambas. Sebagian besar pantainya bercadas, hanya sebagian kecil yang berupa pasir putih.
Hutan-hutan di pulau Matak digunakan sebagai ladang karet, durian, singkong, kelapa dan cengkeh. Hewan-hewan penghuninya diantaranya adalah kancil, ular, anjing, bangau, biawak, elang dan kalong. Hewan ternak yang dipelihara penduduk antara lain: ayam, itik, kerbau, dan sapi.
Sore yang cerah, kami memutuskan untuk berjalan menuju Matak Kecil. Keluar dari pos penjagaan Matak Base ke arah kanan melalui kampung Gunung Cak, kemudian berbelok ke kiri menyusuri jalanan tanah yang mendaki. Pendakian landai namun melelahkan karena treknya panjang sekali. Sesampainya di dataran pada sebuah tempat yang dapat disebut puncak kami bertemu dengan seorang petani karet yang sedang beristirahat. Karet ia ambil dari hutan di atas bukit, kemudian dengan gerobak dan pikulan ia bawa karet tersebut menuju Matak Kecil. Terbayang betapa besar usaha yang dilakukannya untuk mencari nafkah. Dari Matak Kecil, ia harus menyusuri selat menuju Tarempa dengan menggunakan pompong. Di Terempa-lah karet-karet itu akan dijual.
Perjalanan kami lanjutkan dengan menuruni bukit, sebagian telah dikongkrit dengan peluran semen dan pasir. Namun jalan menurun ini sangat curam dan licin oleh pasir tanah. Hingga sampailah kami di dekat dermaga PT. PAN. Di sisi bukit kami temui dua orang sedang membakar batu. Batu tersebut sudah dibakar selama 3 jam, dan terus dibakar hingga cukup rapuh untuk dipecah. Pecahan batu akan digunakan sebagai pondasi rumah penduduk.
Kami berkenalan dengan salah seorang dari pembakar batu itu, namanya Erwan. Ia mengajak kami mampir di rumahnya. Rumahnya langsung dapat dikenali dari jauh, karena warna cat yang berbeda dengan rumah sekitar. Erwan pernah bekerja sebagai pegawai catering di Matak Base, namun ia berhenti karena mendengar PT. PAN membutuhkan pekerja. Akan tetapi sampai saat itu ia masih belum bekerja di PT. PAN.
Di rumahnya, Erwan mengusahakan warung kebutuhan sehari-hari. Ia menyuguhi kami dengan botol air mineral dan sebungkus kacang kulit. Sambil menikmati udara pantai di sore hari, kami ngobrol banyak hal. Dari obrolan itu kami ketahui bahwa Erwan yang kelahiran Matak pernah merantau ke Ranai ketika ia menginjak kelas 2 SD. Orang tuanya tidak mampu menyekolahkan beliau hingga tamat. Dengan bekal semangat ia pergi meninggalkan kampung halamannya menuju Ranai di kepulauan Natuna Besar. Di perantauan, ia tinggal bersama orang yang mau menampungnya. Ia rela disuruh mengerjakan segala pekerjaan asalkan ia tetap dapat sekolah. Ketika menginjak SLTA, ada seorang pejabat lokal yang bekerja di PLN mengangkatnya sebagai asuhan. Erwan dibiayai sekolahnya hingga selesai. Namun, orang baik itu harus bertugas di Padang, ia menyarankan kepada Erwan agar meminta ijin orang tua jika hendak mengikut beliau ke Padang.
Pulanglah Erwan ke Matak Kecil dan menyampaikan maksudnya kepada orang tuanya, tetapi orang tuanya mencegah kepergian Erwan. Tidak berapa lama, sang ayah meninggal dunia, menyusul pula sang ibu beberapa waktu kemudian. Erwan dititipi amanah menjaga adik-adiknya perempuan. Karena khawatir akan pengurusan adik-adiknya, Erwan menikah dengan seorang gadis di kampungnya dengan maksud istrinya mampu menjadi kakak sekaligus ibu bagi adik-adiknya.
Sampai kini Erwan memiliki semangat untuk tetap berjuang menghidupi diri dan keluarganya. Ia juga masih punya harapan untuk hidup lebih baik.
Senja pun tiba, setelah membayar minuman dan snack, kami berpamitan dan berlomba dengan malam untuk mencapai Matak Base sebelum gelap.
1.4.06
11 Trip M-1
[pob.08.03] main tennis. Ke warehouse meet pak Ronald Mambu. Tidur siang. Jalan di landasan bersama dr Ary dkk.
[pob.09.03] main tennis. Ke warehouse. Jalan-jalan ke Matak Kecil. Meet pak Erwan, pemilik rumah oranye.
[pob.10.03] ke warehouse dan jetty port. Jumatan. Istirahat.
Berlibur atau tidak, berada di Matak sama saja, kegiatan kami lebih banyak untuk berolahraga dan beristirahat. Sebenarnya kami punya jatah on duty di Matak pada akhir program, tetapi kami sepakat untuk menggunakan sebagian waktu libur kami untuk mempelajari kegiatan di Matak Base.
Setelah kami temui pak Arifin, base superintendant, menyampaikan maksud kami tersebut, mulailah program di Matak Base. Di kantor, kami bertemu dengan pengurus community development, pak Akmal Ruzzaman. Beliau sedang menyiapkan laporan kegiatan dalam bentuk dokumen dan presentasi. Kami diminta mengajarkan beliau beberapa keys untuk penyiapan laporan.
Kami dikenalkan dengan pak Ronald Mambu, supervisor warehouse. Hari pertama digunakan untuk warehouse touring, melihat-lihat penyimpanan barang-barang di yard dan warehouse, dan sistem inventory. Di yard kami temukan barang-barang tubular dan stok asesoris untuk keperluan pemboran, dan juga stok sisa proyek. Sistem inventory memudahkan penyimpanan dan pencarian barang-barang di warehouse.
Hari kedua kami mempelajari sistem receiving dan issuing. Receiving adalah sistem penerimaan barang yang datang dari Jakarta maupun vendor. Barang-barang yang diterima dapat merupakan barang yang dipesan (order) maupun barang untuk memenuhi stok minimum. Issuing adalah sistem pengeluaran barang dari warehouse kepada pengguna. Untuk barang-barang yang dipesan oleh fasilitas offshore, Matak warehouse hanya sebagai transit saja sehingga tidak masuk dalam catatan receiving dan issuing.
Hari ketiga kami mempelajari order, return, dan mengunjungi port. Order adalah sistem pemesanan barang berdasarkan permintaan pengguna maupun memenuhi stok minimum. Return adalah sistem pengembalian barang-barang yang spesifikasinya tidak sesuai dengan permintaan. Untuk pengembalian barang tersebut dilengkapi dengan non-conformable report. Sedangkan untuk jumlah yang tidak sesuai, hanya dilakukan notifikasi saja. Port melayani offloading dari yard atau warehouse ke kapal untuk dikirim ke fasilitas offshore maupun dari/ke vendor/Jakarta dan yard.
Jika di pagi hari kami manfaatkan waktu dengan bermain tennis, sore hari kami gunakan untuk berjalan-jalan, baik itu di landasan ketika sudah tidak ada lagi jadwal penerbangan (kira-kira jam 5 sore) maupun jalan-jalan ke kampung di luar Matak Base.
28.3.06
10 Off 2
jam 5 sore kami sampai di Matak, bertemu dengan pak Arifin Sjukur dan dr. Ary yang sedang menuju landasan untuk jogginng sore itu. Kebetulan helikopter yang kami tumpangi adalah penerbangan terakhir. Kami diminta menempati kamar 410, karena kamar 112 yang pernah kami tempati pada Off 1 lalu sedang ditempati oleh teman-teman yang sedang mengikuti pelatihan oil spill sejak tanggal 1.
Kamar 410 memang bukan kamar yang disarankan untuk pekerja pihak pertama maupun pihak kedua. Barak 4 adalah barak untuk pihak ketiga, para subkontraktor. Tetapi yang mengesalkan kami adalah perbedaan pelayanan dalam perawatan kamarnya. Coret-coretan di kayu tempat tidur, bantal yang bau apek. Walaupun dilucuti sarung bantalnya dan spreinya, tetap saja bau. Waaa... malam itu tidur tanpa bantal dan sprei. Hanya selimut dan itupun bau matahari. Hiks...
[pob.05.03] main tennis. Tidur siang. Main ke pulau Langu dan berenang bersama pak Arifin dan teman-teman oil spill training.
Pagi itu kami main tennis, berkenalan dengan orang surveyor, dan menjemur bantal! Siang yang panas bikin bantal yang berpulau-pulau itu menguap baunya. Beberapa orang dari peserta pelatihan oil spill adalah teman-teman yang pernah kami jumpai di LGP. Jam 4 ½ kami dijemput pak Arifin dan menuju jetty. Dengan rescue boat kami meluncur ke pulau Langu dan bersenang-senang sampai magrib.
Makan malam kami saat itu spesial, barbeque dari berbagai macam ikan, ayam dan daging sapi. Wow.
[pob.06.03] main ke Terempa. Tidur siang. Jalan cepat di landasan.
Jam 6 ½ pagi kami bergegas menuju dermaga Payalaman, alhamdulillah mendapat tempat duduk di pompong. Perjalanan menuju Terempa lebih lambat daripada perjalanan kami sebelumnya. Sesampainya di Terempa, kami mampir ke kedai Murai, minum secangkir teh atau kopi. Setelah itu kami berjalan menyusuri pantai sebelah barat. Beberapa rumah penduduk berada di daratan, sebagian lain bertopang susunan kayu di atas pantai.
Ada batu yang dibelah menjadi jalan orang lewat. Kami terus berjalan sampai ke vihara yang berada di tebing. Untuk mencapainya harus menaiki undakan. Bangunan vihara ini terlihat menarik ketika kita berada di dalam pompong pada perjalanan dari dan ke Tarempa. Beberapa komunitas keturunan tionghoa hidup di sekitar vihara, bekerja sebagai pedagang, nelayan maupun petani. Pemandangan dari halaman vihara amat indah. Kita dapat memandang perairan teluk dan selat, maupun kota kecil bernama Tarempa yang berada di teluk sebelah utara pulau Siantan.
Dari vihara, kami kunjungi penginapan tanjung Indah yang dibangun menjorok ke teluk untuk mendapat pemandangan teluk Tarempa yang indah. Di depan penginapan, terdapat perajin pompong bernama pak Sabli. Saat kami kunjungi, beliau sedang mengerjakan pesanan pompong dengan panjang 8 meter. Di Tarempa, hanya dia perajin pompong saat ini. Kayu penyusun pompong diusahakan papan solid yang panjangnya sesuai panjang pompong yang diinginkan dan tidak terpotong. Untuk membuat lekukan perahu, papan tersebut dibakar sebelum dilekukkan. Setiap celah antara papan diisikan dengan kulit kayu gelam yang dapat mengembang ketika terkena air. Menyambungkan antara papan sebagian besar dengan pasak kayu dan sebagian lagi dengan paku atau murbaut besi.
Kami lanjutkan perjalanan ke pasar, mencari sandal berpelindung tumit, dan tidak kami dapatkan satupun. Kemudian menuju penjahit untuk menjahit celana pendek kami bertiga yang sobek. Dan makan di kedai pinggir laut yang dekat dermaga dan menghadap ke teluk.
Di kedai kami berkenalan dengan Sabri, seorang petugas dinas kesehatan yang berasal dari Medan. Beliau lulusan Akademi Kimia Analis dan pernah bekerja di Papua sebagai analis laboratorium Freeport. Resah hatinya meninggalkan sanak keluarga membuatnya keluar dari pekerjaannya dan menjadi petugas dinas kesehatan di Terempa. Walaupun penghasilannya tak seberapa dibandingkan dari pekerjaan sebelumnya, ia lebih merasakan ketenangan.
Ada banyak hal yang tidak kita pahami mengapa seseorang berbuat sesuatu yang menurut kacamata materi mengherankan, tetapi justru itulah yang membuat hidup menjadi lebih menarik :)
Belajar dari pengalaman pertama kami ke Tarempa ([jou.13.02]) kami segera masuk ke pompong walaupun pompong baru akan berangkat setengah jam kemudian. Bersyukur kami tidak perlu duduk di atas atap perahu lagi. Berkenalan dengan pak Bukhari, seorang pekerja community development dari perusahaan partner kami.Sesampainya kembali ke base, kami tidur siang. Sore itu saya pergi ke landasan untuk berjalan cepat. Beberapa orang saya temui sedang jogging di sore itu. Waktu 45 menit dihabiskan untuk berjalan cepat menjelang magrib.
26.3.06
09 Trip 2-2
[pob.20.02] morning meeting. Classroom for HSE Programs and Process Design Overview of FPSO.
Dalam morning meeting di FPSO ada agenda yang disebut sebagai safety talks. Berhubung masih banyak orang asing yang bekerja di FPSO ini, the communication is conducted in English language especially for meetings. It’s not bad; as we can improve the capability of these workers in speak English as foreign language. Back to safety talks, juga disampaikan dalam bahasa Inggris. Setiap hari pembicaranya berbeda dari para pekerja dan sudah dijadwalkan dengan rapi.
Agenda safety talks merupakan salah satu program dari HSE. Di antara program lainnya adalah sosialisasi prosedur, program championship, program weekly safety leader, audit, fire drill, dan safety training & observation program (STOP).
STOP menjadi tolok ukur keberhasilan penerapan HSE pada pekerja. Kegiatan STOP sendiri adalah menghentikan pekerjaan, memulai pemindaian keadaan dan potensi bahaya, melakukan intervensi, dan mencatat dalam kartu STOP. Kriteria pengisian kartu STOP yang baik harus memenuhi sebesar apa kewaspadaaan dan apa yang dilakukan untuk mengatasi potensi bahaya tersebut, baik kepada alat maupun orang. Setiap orang yang mengetahui dituntut untuk membuat kartu STOP.
Permasalahan laten yang harus diwaspadai oleh HSE advisor dan safety leader adalah ketika kartu STOP banyak dibuat oleh para pekerja dapat berarti tingkat kewaspadaan tinggi atau tingkat potensi bahaya tinggi, sedangkan ketika kartu STOP sedikit dibuat dapat berarti tingkat potensi bahaya rendah atau para pekerja sudah mulai lengah. Oleh karena itu, media safety talks dan safety campaign menjadi perhatian untuk terus mengingatkan para pekerja untuk senantiasa bekerja dengan aman.
Setelah pak Agung Djatmiko menyampaikan materi kelas mengenai HSE program, pak Ramli Pakeh sebagai superintendent operasi mengajarkan desain proses pabrik gas di FPSO.
Mengikuti materi yang disampaikan oleh pak Ramli, ingatan saya melayang ke masa kuliah dulu. Sebagai mahasiswa Teknik Gas dan Petrokimia, salah satu mata kuliah wajib adalah Pengolahan Gas. Kembali saya teringat tentang proses pengolahan gas alam sehingga menjadi liquified natural gas (LNG) dan LPG yang keduanya merupakan NGL (natural gas liquid).
LNG adalah Gas Bumi yang terutama terdiri dari metana yang dicairkan pada suhu sangat rendah (sekitar minus 160º C) dan dipertahankan dalam keadaan cair untuk mempermudah transportasi dan penimbunan. Sedangkan LPG adalah gas hidrokarbon yang dicairkan dengan tekanan untuk memudahkan penyimpanan, pengangkutan, dan penanganannya yang pada dasarnya terdiri atas propana, butana, atau campuran keduanya.
Di dalam FPSO proses pengolahan gas alam menjadi NGL mengalami beberapa perlakuan, yaitu:
- Amine contactor sebagai alat untuk menghilangkan kandungan H2S pada gas alam
- Mercury guard bed sebagai alat untuk menghilangkan kandungan merkuri
- Mol sieve dehydration sebagai alat untuk menghilangkan kandungan air
- Cryogenic Expander plant sebagai alat untuk memperoleh kandungan etana yang tinggi
LNG yang dihasilkan oleh FPSO utamanya untuk ekspor, dan sebagian digunakan sebagai fuel gas dan injeksi sumur. Gas injeksi bertujuan untuk mempertahankan tekanan reservoir. LPG yang dihasilkan oleh LPG plant akan ditampung pada FSO untuk LPG yang sedianya baru dioperasikan akhir tahun ini.
Dari hasil perbincangan, diketahui bahwa FPSO masih membutuhkan tenaga kerja insinyur proses untuk dapat menghitung dan menganalisis kesulitan-kesulitan yang dihadapi di FPSO. Tertarik dengan tantangan ini, sempat tergiur juga untuk mencicipi pekerjaan di lepas pantai. Apalagi mendapat sinyalemen dari kantor agar saya belajar apa saja yang dapat mengembangkan kemampuan saya, barangkali dibutuhkan untuk masa depan. Who knows?
[pob.21.02] morning meeting. Safety initiatives.
Tak banyak yang dapat diceritakan, sebagian besar pembicaraan mengenai safety sudah diungkap di atas. Saya malah ngeblog dan mulai menulis for dummies seri safety hehehe..
[pob.22.02] morning meeting. Kerja bakti suplai makanan. Management of change presentation.
Ada kerja bakti mengangkut bahan makanan dari container ke gudang dapur. Container terletak di section P2 dan S2 sedangkan gudang dapur berada di section 8 dan di level 2 living quarter. Untuk mencapai level 2, menggunakan tangga 1 level dari deck. Teman-teman yang di bekerja di container, mengeluarkan barang-barang dan menempatkannya ke dalam trolley, ada 3 trolley yang digunakan untuk mengantarkan barang sebanyak 2 container ke dekat gudang. Teman-teman yang di dekat gudang membentuk barisan untuk mengoper barang-barang dari deck ke level 2 diteruskan ke gudang.
Wah, pekerjaan hari itu menyenangkan sekaligus melelahkan.
Presentasi management of change sebagai sosialisasi kepada para leader bahwa setiap pekerjaan yang merubah desain harus dilakukan prosedur MOC.
[pob.23.02] tier-1 audit, housekeeping.
Diajak melakukan audit hosekeeping, dibagi dalam 3 team. Tim pertama ke level 2 gas plant, tim kedua ke level 1 gas plant, dan tim ketiga ke warehouse dan workshop.
[pob.25.02] PTW Review in morning meeting. Power management system with Rahmad Syamsudin.
Permit to Work (PTW) merupakan dokumen resmi yang memastikan pekerjaan yang dilakukan sesuai prosedur dan telah mengidentifikasi kaitan dengan unit proses maupun pekerjaan lain serta meminimalisasi potensi bahaya. Prosedur PTW harus dilakukan dengan baik dan dokumen pendukungnya lengkap untuk mempermudah evaluasi.
[pob.26.02] electricity touring.
Setelah belajar mengenai power management system pada hari kemarin, kami melanjutkan dengan touring melihat fasilitas pembangkit listrik dan ruang control yang memasok kebutuhan listrik seluruh FPSO. Berbahan bakar gas alam yang sudah diproses di gas plant, menghidupkan generator dan memasok kebutuhan listrik sesuai dengan daya yang dibutuhkan oleh alat-alat di fasilitas. Selain generator gas, FPSO juga memiliki cadangan generator diesel sebagai pendukung saat darurat.
[pob.27.02] Gas export process, operation touring and PTW system at control room with Fujiono.
Pak Ramli sulit ditemui untuk mengajar, beliau disibukkan oleh pekerjaan dan rapat-rapat. Posisinya sebagai superintendent membuat beliau sangat dibutuhkan. Hari itu beliau sangat sibuk, untunglah beliau telah mendelegasikan tugas mengajar kami kepada pak Fujiono.
Bersama dengan beliau kami mendalami proses pengolahan gas ekspor yang dilakukan di FPSO. Setelah cukup memberi pengantar, beliau mengajak kami melihat sosok unit proses secara langsung, menelusuri alur proses dari high pressure separator hingga gas export compressor. Setelah makan siang, kami bertemu kembali untuk mempelajari prosedur dan dokumen PTW.
[pob.28.02] offloading process
hari itu ada tanker yang merapat di single buoy mooring (SBM) untuk membeli minyak dari FPSO. Sebelum proses offloading dimulai, para leader bertemu dan membicarakan pre-job safety. Lamanya offloading proses berlangsung sesuai dengan jumlah barrel yang ditransfer dan kecepatan pompa. Untuk akurasi metering, dilakukan di dua tempat yaitu di tanker penerima dan di tanki pengirim, serta dilakukan running test setiap segmen untuk memastikan kesesuaian jumlah dan komposisi minyak yang dijual.
[pob.01.03] wellhead process with Dody Yuhanes
tidak sempat mengunjungi wellhead platform (WHP) karena kesibukan mentor di FPSO, membuat kami belajar mengenai proses yang terjadi di WHP hanya dari layar monitor di ruang kendali.
[pob.03.03] presentation
sebagaimana trip pertama, di akhir trip kedua ini kami diminta untuk menyampaikan presentasi mengenai hasil observasi dan learning kami mengenai proses operasi produksi, kendala dan usulan untuk FPSO. Kemudian diskusi dilanjutkan mengenai partnership antara perusahaan minyak dengan badan pelaksana kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi serta konsep kontrak kerja sama yang dibangun oleh keduanya.
Kali ini audiens presentasi kami tidak hanya dari para leader, para pekerja dan pihak ketiga yang berminat dipersilakan untuk hadir. Presentasi yang berlangsung selama 2,5 jam itu berjalan seru dan hidup.
[pob.04.03] down to Matak.
Akhirnya selesailah masa trip kedua kami. Peraturan keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan ini, setiap orang diperbolehkan berada di fasilitas produksi maksimal 21 hari dan diberikan masa berlibur minimal 7 hari dalam sebulan. Di awal masa OJT ini kami diberitahu bahwa masa “on” adalah 2 minggu dan masa “off” adalah 1 minggu.
Namun ketentuan perusahaan kami mengenai OJT bahwa peserta OJT tidak diperkenankan kembali ke republik Jakarta (pulau Jawa) selama masa OJT. Sehingga masa “off” kami harus dihabiskan di pulau Matak dan sekitarnya. Banyak hal exciting yang dapat kami alami selama berlibur di pulau Matak, yang tentu saja tidak mudah diperoleh jika kami berlibur di kota.
Teman-teman yang mendapatkan OJT di onshore, memanfaatkan waktu libur di kota propinsi terdekat dengan lokasi OJT. Sedangkan kami, bergumul dengan perahu, air laut, pulau-pulau, hutan dan bukit.
Helikopter yang akan menjemput kami kembali ke Matak, akhirnya datang sore setelah ditunggu sejak siang dan membuat kami sampai di Matak menjelang magrib.
14.3.06
08 Trip 2-1
Tujuan kami pada trip 2 ini adalah fasilitas floating production, storage & offloading (FPSO) yang berada di Eastern Hub Operation.
[pob.18.02] up to FPSO. Orientation.
Di FPSO kami disambut dengan program orientasi yang terjadwal, wah rupanya mereka lebih siap menerima kami. Pagi itu setelah meminta waktu untuk sarapan, kami mulai orientasi di ruang TV yang dijadikan sebagai classroom. Dibuka pengantar oleh pak Ian McCulloch sebagai field manager, dilanjutkan pengenalan FPSO oleh pak Nurzaini Maksum. Siang harinya tour melihat-lihat fasilitas FPSO.
Resiko yang nyata dihadapi para pekerja di FPSO ini selain keberadaannya di tengah laut, adalah kebocoran gas beracun dan merkuri. Gas beracun H2S berasal dari sumur gas sedangkan kandungan merkuri berasal dari sumur minyak. Dengan kondisi ini, setiap pekerja dibekali detector gas beracun portable, dan diharuskan menerapkan standar tinggi untuk kesehatan. FPSO dilengkapi fasilitas alarm yang sensitive terhadap percikan api dan kebocoran gas.
[pob.19.02] morning meeting. Fire drill. Classroom HSE Management System. Bypass Review Meeting. ERP Meeting. Toxic Gas Detect at about 9 pm go to muster station.
**
Morning Meeting
Seperti halnya di fasilitas operasi lainnya, di FPSO ini setiap pagi dilakukan morning meeting yang bertujuan sebagai sarana komunikasi dan informasi dari, oleh dan untuk para pekerja. Hal-hal yang disampaikan dalam morning meeting adalah:
Isu-isu yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja dan lindungan lingkungan (HSE).
Isu-isu yang berhubungan dengan kebijakan manajemen, baik dari kantor pusat maupun dari operasi di lapangan.
Permasalahan, kemajuan, pesan dan saran, serta solusi yang berkaitan dengan pekerjaan.
Sebagaimana namanya morning meeting menjadi sarana efektif di awal hari kerja, sehingga para pekerja dapat menjalankan pekerjaannya dengan rasa aman, nyaman, waspada, dan senang.
**
Fire Drill for your reminder
Setiap orang yang baru naik ke fasilitas operasi akan diperkenalkan dengan peraturan yang berlaku di lingkungan kerja, di antaranya adalah pengenalan bunyi alarm dan muster point (tempat berkumpul yang aman), dan diberikan kartu personal yang berisi informasi penting. Tidak cukup hanya mengenal bunyi alarm di awal trip, setiap orang berpotensi untuk melupakannya sehingga dilakukanlah latihan alarm untuk berbagai kondisi seperti alarm kebakaran, alarm deteksi gas beracun, dan alarm meninggalkan platform.
Dengan dilakukan latihan alarm setiap kali trip, diharapkan para pekerja waspada dalam keadaan darurat, berjalan dengan tenang menuju muster point, membalikkan kartu personel (T-Card) milik sendiri, mengenakan life jacket, dan menunggu perintah komandan darurat. Untuk beberapa kondisi, latihan juga dilakukan dengan menjalankan mesin lifeboat dan memasukinya, latihan penanganan orang terjatuh ke laut (men overboard), dan latihan penanganan tumpahan minyak atau bahan-bahan berbahaya.
**
Toxic Gas Detect.. toxic gas detect..
Hari itu, setelah mendapatkan materi kelas mengenai HSE management system yang diaplikasikan di lingkungan perusahaan kontraktor tempat kami melaksanakan OJT, kami diajak berpartisipasi dalam beberapa meeting seperti bypass review dan table top.
Bypass review membahas pekerjaan-pekerjaan yang sudah selesai, ditunda, maupun dialihkan. Karena bersifat review, meeting ini cukup singkat. Detil pembahasan dilakukan oleh masing-masing bidang pekerjaan.
Table top adalah meeting yang dihadiri oleh para leader seperti para supervisor, kapten, field manager, dan dokter. Pada hari itu table top dilakukan sebagai pengganti latihan men overboard karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan. Bahasan table top kali ini adalah rencana tanggap darurat (Emergency Response Plan – ERP). Masalah tumpahan api di laut menjadi tema pembahasan ERP. Meeting berjalan dengan cukup baik dan hangat.
Malam harinya, ketika mata mulai mendapatkan posisi ternyaman dalam terpejamnya, terdengar sayup nada dari speaker. Didengarkan lebih saksama ternyata bunyi alarm deteksi kebocoran gas beracun. Kami segera bangkit dari tempat tidur dan meninggalkan kamar 515 untuk menuju muster point di lantai 2. Setelah membalikkan T-Card masing-masing, kami bersama para pekerja lainnya menunggu informasi dari komandan. Beberapa saat kemudian terdengar pemberitahuan komandan bahwa isu alarm dapat dikenali dan hanya berupa false alarm, para pekerja di muster point dipersilakan kembali melakukan aktivitas masing-masing.
Menegangkan, bekerja di fasilitas lepas pantai dengan resiko tinggi seperti ini. Pantas teman-teman pekerja mendapatkan tunjangan resiko yang tinggi disamping tunjangan lain-lain dari perusahaan mereka. Sedangkan kami yang sedang melaksanakan OJT ini, hanya mendapatkan uang saku yang tidak besar.
(mungkin gak ya, kami dapat memperoleh tunjangan resiko dari perusahaan kami jika mereka tahu kondisi seperti ini? :D)
*
12.3.06
07 Jamban
Saya sedang tidak hendak membahas lebih lanjut istilah “jamban” dalam kaidah bahasa Indonesia maupun bahasa lainnya. Saya akan kembali kepada tempat di mana saya mendengar kembali istilah itu.
Di rumah pak Safri, yang disebut jamban adalah sebuah ruangan berukuran 1x1 ½ meter persegi yang terdapat pada kamar mandi berukuran 2x2 ½ meter persegi. Sebuah lampu minyak yang menempel di dinding ruangan menjadi sumber penerangan di waktu malam hari. Yang menakjubkan bagi saya setelah menunaikan hajat di jamban tersebut adalah ketika mendongakkan kepala ke atas mata saya tidak menangkap bentuk atap di sana, melainkan sebuah pemandangan indah yang amat langka.
Pengalaman berada di jamban sebuah rumah pedesaan di waktu malam bulan purnama sangat mengesankan. Menatap langit bertabur bintang, cahaya rembulan membawa suasana syahdu, semilir angin menggoyang dahan-dahan pohon kelapa seakan-akan mereka ikut larut dalam tarian beriring musik fauna malam. Jamban berhasil membawa nuansa eksotik yang menyentuh perasaan saya tentang kerinduan damainya desa yang permai.
11.3.06
06 Off 1
Sesampainya di Matak, kami bertemu dengan pak Asep Sadikin, yang diserahi tanggung jawab mengelola operasi di Matak sementara pak Arifin Sjukur sedang off duty. Untuk tempat tinggal, kami mendapat kamar 112, menghadap ke taman. Siang itu kami gunakan untuk beristirahat setelah sekilas melihat-lihat fasilitas akomodasi yang terdapat di Matak Base.
Hujan yang mengguyur sepanjang waktu istirahat kami, cukup menyejukkan suasana (kabarnya di Matak jarang hujan). Sekitar jam 4 ½ sore, seseorang mengetuk pintu kamar kami. Ternyata Johan datang.
Johan adalah kenalan kami selama berada di LGP, dia senang berkenalan dengan kami, dia datang sore itu untuk memenuhi janjinya mengajak kami jalan-jalan di pulau Matak. Saya ikut dengannya untuk mengambil sepeda motor sebuah lagi di rumah kakaknya di desa Payaklaman. Kemudian kami berdua kembali ke base untuk menjemput bagus dan bayu.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah teluk Payaklaman, dimana dermaga pompong berada. Pompong adalah nama yang diberikan penduduk untuk sejenis perahu sebagai sarana angkutan air, mungkin nama itu berasal dari kesamaan bunyi mesin perahu: “pom-pom-pom-pom-pong!”
Perjalanan kami lanjutkan ke desa Langir. Sebelum sampai desa Langir, kami mampir di kebun kelapa pak amir dan membeli beberapa buah kelapa muda, kemudian kami minum airnya dan makan daging buahnya menggunakan sudu. Namun kabarnya lebih enak menggunakan sabut kelapa untuk mengoyak daging buahnya daripada menggunakan sudu (“sudu” adalah sebutan orang melayu untuk “sendok”).
Perjalanan ke desa langir melalui hutan dan jalan yang berbukit-bukit, beberapa kali tidak kuat sepeda motorku mendaki, kadang terpeleset pada lumpur, dan harus berhati-hati menjaga laju supaya tidak tertinggal jauh di belakang. Berpacu dengan gelap, akhirnya tibalah kami di desa langir, dan langsung menuju rumah pencari ketam (“ketam” adalah sebutan untuk “kepiting” atau “rajungan”).
Setelah membeli sekantung ketam, kami mampir di masjid yang berada di atas air untuk salat magrib. Selesai menunaikan salat, kami mengunjungi rumah pak Safri. Di rumah beliau, ketam yang kami beli dimasak oleh bu Safri, kemudian kami makan bersama-sama menikmati ketam dan sambal jeruk buatan bu Safri sambil berbincang banyak hal.
Pak Safri adalah seorang petani yang boleh dibilang sukses untuk ukuran desa tersebut, selain mengelola kebun cengkeh, beliau juga mengelola peternakan sapi. Beliau sering berpartisipasi dalam program community development yang diselenggarakan kontraktor di pulau Matak.
Malam itu juga kami kembali ke base.
[pob.13.02] jalan-jalan ke Terempa berbelanja.
[jou.13.02] morning was out when we decided to go to Terempa. Before 7 am we arrive at jetty. A sailboat called “pompong” brought us to Terempa, a district city. What a pleasure sailing to Terempa took only an hour from Payaklaman bay. At Terempa, we look around the market and took a coffee morning at a coffee shop (kedai). We walked around Terempa city and had a lunch at seashore restaurant with menus: kerang, ikan and telur penyu.
We’re almost left behind when the pompong sailed back to Payaklaman. We can’t sit at the passenger’s seat because there was full with goods, so we took the roof for our seats and showered by the sunray.
We reached the matak base from the jetty for 30 minutes walk.
[pob.14.02] mancing di pulau langu. Dapat ikan kerisi dan kerapu.
[jou.14.02] we planned to go fishing in island. That morning we walked to Johan’s place and prepare some fishing tools. We rented a speed boat to take us to pulau Langu. We run that day with fishing activities, an unforgettable experience. Gamed some fish from 9 am to 2 ½ pm. A pompong was arrived to pick us back to Payaklaman. Our skin was burnt of the sunray. We brought the fishes to the kitchen and ask the cook to have it fried for our dinner.
[pob.15.02] main tennis. Tukar obat malaria karena allergy obat. Makan kerang di langir.
Sepulang dari Terempa kemarin, kami menemui dr. Ary untuk mendapatkan obat malaria sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit malaria, nyamuk hutannya ganas-ganas. Tetapi setelah makan sebutir pil, saya dan bayu malah menderita gatal-gatal, sepertinya alergi terhadap obatnya. Melihat kedua kawannya alergi obat, bagus tidak mengonsumsi obat tersebut.
Rabu itu saya datang menemui dr. Yuri, back-to-backnya dr. Ary, oleh beliau saya diberikan obat yang tidak mengandung antibiotic tertentu yang membuat alergi. Hanya saya yang menukar obat itu, sedangkan bayu dan bagus tidak lagi mengonsumsi obat yang diberikan, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada mereka.
[jou.15.02] this morning we play tennis, I learn to hit the balls correctly. After dusk, johan came to pick us to Langir. In pak Safri’s house we eat some kerang. We collect some rupiahs and give those bucks to bu Safri as our thank you for her kindness providing us the meals.
[pob.16.02] pagi main tennis, malam ikut yasinan di masjid.
[jou.16.02] I woke up late this morning. After breakfast we played tennis again. We watched some movies and took a nap that whole day.
[pob.17.02] main tennis. Salat jumat. bakar sotong dan ikan. Nonton pertandingan bola kaki di Ladan.
Siang itu selepas salat jumat, kami ke tempat johan untuk membakar sotong dan ikan. Kami makan siang (lagi) sampai jam 3 sore. Kemudian kami berangkat ke lapangan bola desa Ladan untuk menonton pertandingan bola kaki antara desa batu ampar melawan desa putik.
Sepulang ke base, kami harus bersiap-siap mengepak barang untuk keberangkatan kami ke trip kedua.
05 Trip 1-2
[pob.04.02] morning meeting. Maintenance system with rahmat susanto. Exercise.
Akhirnya sepatu safety untukku datang juga, dikirimkan kepada pak Gandjar. Setelah kukembalikan sepatu pak Joseph kepada mas Bagus Purnomo sesuai pesan beliau, kini saya dapat mulai mengenakan sepatu safety milik sendiri, senangnya!
[jou.04.02] to fill our bellies with meals and drinks. To watch every TV station all over the day. To wait of something does not need to be wait. It’s somelike vacation without destiny. An entertainment without fun. Becoming crazy to stay here… is it stupid to keep shut this comments? Or more crazy to publish it?
[pob.05.02] morning meeting. Shutdown 9 am to 3 pm. Catering bidder visit. Exercise.
[pob.06.02] morning meeting. Intan FSO jam 10 pagi. with pak sutikno yudi, western hub field manager.
[pob.07.02] morning meeting. Pindah kamar ke 416 dan 417. no TV no telephone. Buat bahan presentasi.
[jou.07.02] pindah kamar karena yang punya kamar datang. New room without TV and telephone! For only next 5 days. Kalo mo nonton TV di TV room, kalo mo nelpon di telepon umum J ngga masalah tuh! Udah dapat akses internet, akan lebih sering main komputer daripada nonton.
Pak Taufik Saffar, the OIM datang, jadinya kami harus pindah ke lantai 4. berada di kamar 416 dan 417 membuat kami harus bersyukur pernah berada di kamar 303. fasilitasnya jauh berbeda, suasananya pun berbeda. Kami harus tidur sekamar dengan pekerja lainnya yang masuk malam, otomatis siang-siang kami jarang berada di kamar. Benar-benar beda dengan sebelumnya (kami lebih sering di kamar 303 daripada di luar kamar hehehe…)
[pob.08.02] morning meeting, pigging operation dari whpb ke dppa with pak didik karyadi, bagus purnomo.
[jou.08.02] ikutan operasi pigging sampai siang. Ngobrol di control room, sementara bayu dan bagus ke pig receiver di dppa. Ngantuk. Abis lunch, tidur siang sampai sore. Lalu exercise.
[pob.09.02] morning meeting. Ngobrol sama dokter hadi cahyanta.
[pob.10.02] presentasi.
[jou.10.02] this is the last day we stay in LGP. Tomorrow we’ll fly to Matak and stay there for a week. After that we’ll sail to FPSO. These 2 weeks are so pleasant time and stay. But I missed my family.
**
Exercise
Di beberapa catatan di [pob] maupun [jou] ada kata-kata “exercise” bertebaran. Maksudnya apa sih? Di platform terdapat ruang rekreasi yang digunakan sebagai ruang olahraga. Di dalamnya terdapat sebuah meja bilyar, meja pingpong, 2 buah treadmill, sebuah sepeda dan sebuah complete exercise package.
Di ruang inilah kami sering menghabiskan sore dengan bermain bilyar atau berolahraga. Kami sadar bahwa pekerjaan fisik di platform bagi kami amat minim. Bukannya kami ngga mau kerja, tetapi karena hands on tidak diperkenankan, karena kami unpropriate person to do the job. Bisa-bisa malah bikin kacau operasi kalau kami dipekerjakan. Kami cuma dibolehkan menonton orang bekerja. Sementara itu jatah makan 3x sehari dan coffee break 2x sehari cukup membuat perut kami buncit kalau tidak dijaga.
Nah, untuk menjaga kebugaran dan proporsi badan kami tetap ideal, kuncinya adalah melakukan exercise minimal 30 menit setiap hari. Atau kalau sempat... J
**
Religious activity
Menjaga keimanan adalah hal penting untuk membuat jiwa kami tetap sehat. Kalau tidak, kami dapat lebih banyak memproduksi hormon stres dan depresi.
Setiap pagi, bayu membaca saat teduh dan alkitab. Saya dan bagus menikmati waktu salat berjamaah di musala setiap waktu salat. Selama berada di platform, saya usahakan untuk menjaga jamaah ketika salat dan membaca ¼ - ½ juz alquran perhari. Sebelum tidur saya usahakan untuk membaca terjemahan alquran.
**
Presentasi
Presentasi adalah sebuah kewajiban OJT kami setiap menyelesaikan trip, sebagai sebuah komponen penilaian keberhasilan OJT. Walau sampai tulisan ini dibuat (10.03.2006) kami masih belum jelas bagaimana penilaian OJT ini.
Apa saja sih yang dipresentasikan? Paling tidak ada 3 hal yang dipresentasikan, yaitu:
- review hasil orientasi selama masa trip, misalnya overview proses gas plant, diagram alir proses, temuan dan usulan, serta diskusi mengenai OJT.
- mengenalkan sosok seperti apa sih perusahaan kami, dan
- bagaimana posisi para kontraktor perusahaan kami dan apa yang dapat dilakukan oleh para pejuang garis depan untuk bersama-sama menjamin efektifitas dan efisiensi kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi.
**
[pob.11.02] rencana down to matak. Kontak pak arifin sjukur for accomodation.
Due to bad weather, rencana down to matak gagal! Saya tidur (kembali) di 301 dengan ari, ngobrol banyak tentang bagaimana seharusnya on the job training supaya mengenal kecurangan-kecurangan di lapangan. Sebab-sebab mengapa gaji pekerja kasar di industri perminyakan kecil. Dan sebagainya…
04 Trip 1-1
And now, here I am with bayu and bagus in lift gas platform for the first trip.
Saya masih sempat menulis dalam trip pertama ini, karena saya membawa buku, tapi buku itu cukup menghabiskan tempat di tas saya, akhirnya untuk trip berikutnya saya hanya menuliskan hal-hal penting saja di pocket book saya.
Saya berniat untuk banyak menulis dalam perjalanan 3 bulan ini, dari sekian banyak hal yang akan kami dapati dan alami, mudah-mudahan menjadi catatan yang memberikan hal-hal berharga yang dapat dijadikan pelajaran.
Bertolak dari bandara Halim PK Jakarta setengah jam lebih telat karena hujan deras, menempuh perjalanan 2 jam 40 menit menggunakan pesawat fokker 50, sampailah kami di lapangan udara Matak Base. Sesampainya di sana, kami menemui pak Rusli untuk pengenalan penggunaan swing rope dan personnel frog. Kemudian menitipkan tas besar kepada pak Komarudin di training room. Kami hanya membawa backpack untuk ke platform.
Tengah hari kami terbang dengan helikopter menuju lift gas platform (LGP) di western hub operation. Di sekitar LGP terdapat beberapa fasilitas yang akan dikunjungi dalam trip 1 ini. Drilling platform and production alpha (DPPA) menyambung jadi satu dengan LGP. Untuk pergi pulang cukup dengan berjalan kaki saja menyeberangi bridge yang menghubungkan kedua platform ini. Sebelah timur platform terdapat fasilitas floating storage and offloading (FSO), sebuah mantan kapal yang dimodifikasi menjadi tempat penyimpanan dan bongkar crude oil. Tak jauh dari platform alpha terletak wellhead platform bravo (WHPB). 10 mil dari lift gas platform adalah production barge san jacinto (PBSJ), San Jacinto adalah nama barge yang berfungsi untuk menampung minyak dari sumur sebelum dikirim ke FSO. Untuk mencapai FSO, WHPB dan PBSJ, kami harus menggunakan transfer boat dari DPPA. Perjalanan dengan transfer boat adalah perjalanan yang sering membuat perut mual karena diombang oleh gelombang. Selama kecepatan angin tidak lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang tidak mencapai 2 meter, penggunaan boat masih diperbolehkan, otherwise you can use helicopter or go nowhere lah.
Rekaman kegiatan selama trip 1 tercatat di pocket book (pob) dan jurnal (jou):
[pob.28.01] take off from HPK Airport. Landing at Matak Base. Titip tas di pak Komarudin. Con’t to LGP. Introduction by pak Ferdinandus Joseph.
[pob.29.01] fire drill after breakfast. Go to Muster Station #1. evaluation and Morning Meeting. Overview maintenance and production operation. Overview HSE. Exercise.
[jou.29.01] our 1st day of orientation. We arrange ourself of half day orientation and take the rest of time for nap and recreation. Actually I can not involve as what my other 2 friends do until I get my safety shoes delivered from jakarta. It expected to be arrived at Tuesday. For a while I can hold my orientation only inside the living quarter. Outside is not allowed unless wearing ppe.
Ya, bayu dan bagus dapat mengunjungi fasilitas platform di luar living quarter, sementara saya terpaksa hanya di dalam saja karena sepatu safety saya belum datang dari jakarta. Ini karena salah ukuran. L
[pob.30.01] morning meeting. Radio room and despatcher overview.
[jou.30.01] not much done! Not many visited. Just chatting and having meals. Do I missed my family? I do really. Love my baby wannabe and his mother. Missed my parents. Missed them so much!
**
Kamar 301 dan 303
Kami tinggal di dua kamar yang berbeda. Masalah tempat aja sih. Namun akhirnya saya harus bercampur di kamar 303 karena hari selasa, kamar 301 bakal penuh. Kalau kami jadi satu kamar akan lebih enak karena mau ngobrol semalaman pun bebas saja. Kamar 303 ternyata adalah kamar OIM (offshore installation manager), artinya kami menginap di kamar bos. Selama beliau belum datang, kami boleh tinggal dan menggunakan fasilitas kamar tersebut.
Akses telepon langsung tanpa password, televisi dengan akses tv kabel. Menjadi hiburan yang menyenangkan, membuat kami betah di kamar berjam-jam.
Dengan akses telepon, kami dapat menghubungi keluarga di jakarta begitupun sebaliknya dengan pulsa lokal saja. Bayu sibuk menghubungi keluarganya karena mereka sedang sibuk mempersiapkan pernikahan adiknya bayu tengah tahun ini. ”kadang-kadang” tunangannya bayu juga menelepon, sekedar melepas rindu. Begitupun dengan Bagus, dan juga saya. Menghubungi keluarga di rumah untuk melepas rindu, say hello, dan saling mendoakan.
Tv kabel yang menayangkan saluran HBO, Cinemax, dan sebagainya menawarkan film-film pilihan yang kami tonton ketika tidak ada kegiatan. Seringnya kami berada di kamar pada jam-jam kerja mungkin membuat housekeeping heran terhadap kami. Habis mau bagaimana lagi? Teman-teman di west hub tidak memiliki program kegiatan untuk kami, maka kami sendiri yang menyusun jadwal kegiatan untuk kami. Hehehe...
Berada di kamar 303, adalah pengalaman yang patut kami syukuri selama tinggal di LGP.
**
[pob.31.01] morning meeting. DPPA. LGP. Hospital with dr. joko. Exercise.
Sepatuku ngga jadi datang hari selasa, karena jakarta hari libur nasional. Selama di offshore, ngga ada bedanya hari libur dan hari kerja, karena everyday working day. Akhirnya pak joseph dengan baik hati meminjamkan sepatunya kepadaku sampai sepatuku tiba. Kebetulan selasa itu beliau off duty, sehingga beliau dapat meminjami saya sepatunya.
Pengganti beliau adalah pak Gandjar Iskandar, kami temui beliau selepas makan siang.
[pob.01.02] production barge san jacinto with pak sambudi willem. Transfer oil to tanker. Each 5 days from pbsj to intan fso. Front hull.
[jou.01.02] mabuk laut! 3x ketika berangkat dan 1x ketika pulang. Naik pan marine boat pulang pergi LGP-PBSJ. Melihat proses yang ”sederhana saja” di production barge san jacinto. Minyak di lapangan sembilang tinggal 1700 bopd saja untuk 3 sumur tetapi plateaunya datar, sehingga yang diperkirakan habis tahun 2005 harus diperpanjang hingga 2009. my wife called me by phone, and talked many about her and her baby.
[pob.02.02] WHP Bravo with erie nasibu and pak sulistyono. Exercise.
[pob.03.02] LGP morning meeting.
[jou.03.02] baru 1 minggu aku meninggalkan daratan, rasa rindu tak dapat dipendam. I dream of gathering with my family. Saw them in my nightly dreams. Ugh! Can’t imagine how would it be in the next 12 weeks?
Mom missed me so much, as I do missed her. Pop happy receiving my call. My wife asked me to call her every night. My bro didn’t say anything but surely he missed me too.
When someone’s missing, there will be an empty space and we’re wondering what shall fill that blank spot.
I missed my family. Soon I’ll be at home…
Baru seminggu, ceritanya udah kangen-kangenan…. Wah!
*
03 I think this is the beginning of the journey
Begitulah teman-temanku, agak ”rebellion” memang, tapi toh mereka yakin dengan prinsip-prinsip yang dipegangnya.
Where am i? Of course i am among them :D
Begitulah, OJT dibagi dalam 4 batch. Batch pertama start 1 Desember, kedua 16 Januari, ketiga 1 Maret, dan keempat 17 April. Masing-masing berlangsung selama 3 bulan. Dilaksanakan di lokasi lapangan para kontraktor perminyakan yang berada di luar pulau Jawa, kebanyakan di onshore. Para OJT-ers mendapatkan hak berlibur sesuai dengan peraturan kontraktor yang ditempatinya, namun liburan mereka dialihkan ke kota provinsi terdekat. (kan ngga boleh pulang ke hometown L)
Saya sendiri mengikut batch kedua, dengan alasan bahwa saya harus berada di rumah ketika istri melahirkan anak pertama kami. Saya berhasil membujuk atasan saya mengijinkan perpindahan batch dari ketiga menjadi kedua, walaupun dengan resiko selama 1,5 bulan sebelum saya berangkat, saya harus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mayor dan double, karena rekan kerja saya dalam satu departemen berangkat pada batch pertama.
Awal-awal ditinggal oleh rekan saya, saya masih dapat enjoy mengerjakan pekerjaan rutin. Namun begitu datang beberapa pekerjaan tambahan yang menuntut perhatian, bergulirlah masa-masa dimana saya pulang ke rumah lebih telat, demi menyelesaikan pekerjaan. Saya ngga pernah berhasil menyelesaikan pekerjaan kalau dibawa ke rumah, better for me to spend more time at the office than cut my family time to work at home.
Kejenuhan demi kejenuhan akhirnya terobati, segera setelah pekerjaan-pekerjaan mayor saya kelar dan saya dikabarkan berangkat pada tanggal 16 Januari.
[jou.19.01] I think this is the beginning of the journey. On this side, I’d like to hurry to go on my OJT, but on the other side, I have to leave my family, my dear wife and lovely son will be. I love them very much. I don’t have any reason, since I lack of spirit to continue work this way. But the show must go on! I decide to make this 3 months ahead, a precious and exciting journey!
Itulah catatan jurnal pertamaku memasuki masa OJT. But wait! Saya ngga jadi berangkat tanggal 16 Januari. Hal ini disebabkan karena wilayah OJT kami berbeda dengan teman-teman yang lain. Sementara mereka mendapatkan onshore, kami harus bersenang-senang di offshore, yang kota liburannya bukan di kota provinsi, tetapi di sebuah base di kepulauan. Bertiga, saya dan 2 orang teman dikirim ke tengah laut Natuna, dengan jadwal 2 minggu di platform atau floating facility dan 1 minggu di pulau Matak.
Dan karena perlakuan offshore berbeda dengan onshore, masing-masing kami harus mendapatkan orientasi di kantor Jakarta dan mendapatkan sertifikat basic offshore safety emergency training di Merak sebelum berangkat ke lepas pantai. Berhubung sertifikatku masih berlaku, jadi aku ngga ikutan ke Merak deh. Kami direncanakan bertolak ke offshore tanggal 28 Januari. Wah asyik dong! Pulang lebih cepat! Wakks! Mana bisa, ternyata 3 bulan kami baru dihitung per tanggal keberangkatan, bukan per tanggal program. Akhirnya kami pun direncanakan kembali dari OJT tanggal 29 April, hiks...
***
02 memulai darimana ya?
Mengapa dianggap wajar?
Orang tuanya pegawai BUMN, dia bekerja di perusahaan nasional terkemuka, calon suaminya pemilik perusahaan konstruksi untuk fasilitas perminyakan. Ditambah lagi, jiwa sosialnya juga tinggi… menghabiskan ratusan ribu rupiah per hari untuk belanja baik untuk bersenang-senang maupun untuk sosial, adalah wajar.
Ceritanya hasil wawancara ini dimuat di koran, tetapi gaya penulisan si wartawan, malah menyoroti hal yang berbeda: yaitu menyimpulkan bahwa bekerja di perusahaan kami bisa menghambur-hamburkan uang untuk bersenang-senang! Lho!?
Ujung punya ujung, cerita ini mampir juga di telinga Number One perusahaan kami. Gerah juga mungkin ya denger hal seperti ini. Sebenarnya anak-anak muda perusahaan kami juga pernah bikin gerah para bos-bos itu sebelumnya.
Beberapa pekerja muda senang bermain golf, atau suka makan di resto-resto, dan seringkali diajak oleh rekanan seusia dari kontraktor-kontraktor untuk berlatih golf bersama dan makan-makan bersama. Memang bukan acara resmi yang tersangkut langsung dengan perusahaan. Tetapi ternyata, ulah para rekanan itulah yang bikin kami ditegur. Pasalnya mereka menraktir kami gratis tetapi dicharge sebagai relationship expenditure kepada kantor mereka. Karena perusahaan rekanan adalah kontraktor dari perusahaan kami, otomatis semua biaya pengeluaran mereka akan ditagih ke perusahaan kami. Waduh!
Sst… bisik-bisik aja ya… katanya kalau hal ini terjadi di eselon atas dari perusahaan, ngga pernah ribut-ribut seperti ini. Namun karena ini melanda para pekerja muda…
Ups ga boleh ghibah kan. Hehehe...
Alhasil, manajemen based emotion menetapkan bahwa POKOKnya para pekerja muda harus diasingkan dari peradaban selama 3 bulan tanpa boleh kembali ke pulau jawa, khususnya republik jakarta. Dan program ”pengasingan” tersebut dinamakan OJT.
LHO!?
Ya, benar akhirnya program orientasi bagi para pekerja muda dibuat kelanjutannya. Eh iya. Saya belum ceritakan kalau di awal masuk kerja dulu ada orientasi pekerja baru. 2 minggu belajar di kelas, 2 minggu belajar di lapangan. Untuk kelas berlangsung dengan baik, namun untuk lapangan tidak berjalan baik karena programnya kurang terarah.
Atasan-atasanku mengetahui kekurangan orientasi tersebut dan mengajukan usulan yang jauh lebih baik untuk pembinaanku dan teman-teman. Usulan ini sudah diajukan jauh sebelum kejadian-kejadian di awal, namun tidak menjadi prioritas untuk diperhatikan oleh bagian sumber daya manusia.
Lalu ketika dimunculkan rencana ”pengasingan 3 bulan” itu, para atasanku kembali mempertanyakan nasib usulan mereka (usulan mengenai pembinaan, berisi tentang kurikulum yang lebih spesifik berikut target-target yang hendak dicapai, dan cara penilaian keberhasilan program serta anggarannnya, komplit). Ternyata terdengar bahwa, sebuah divisi menolak program OJT. Waduh!
Siapa yang menolak ya?
Usut punya usut, hal itu karena program OJT yang didukung oleh Number One, ternyata tidak memiliki struktur program dan target yang jelas berikut dengan penilaian keberhasilannya. Tetapi karena program OJT is a must, dan tidak terbantahkan, maka usulan yang baik dari para atasanku itu tertolaklah.
[Catatan:
Sebelum saya melanjutkan, agar menjadi concern bersama bahwa apa yang tertulis pada tulisan ini menjadi lesson learnt yang baik untuk kemajuan. MOHON membuat persepsi yang baik dan segala prasangka agar dikomunikasikan supaya tidak membuat preseden buruk di masa depan.]
*
01 hmmm...
jiwa kelana yang membaca desah kekasihnya:
lihatlah malamku
terusik halimun
udara jadi kaku
cahaya meremang..
tak kudapati jejak kelana
dalam gelapnya..
asa menyerpih, kalut menyergap
rinduku belumlah sampai
ke muaranya..
[c-060307]
