Saya mendengar kabar tentang kisah wawancara seorang pekerja oleh wartawan suratkabar ibukota di sebuah kafe. Ketika ia ditanya tentang kehidupan sehari-harinya, berapa banyak pengeluaran belanja per hari, dan kebanggaannya bekerja di perusahaan kami. Untuk seseorang dengan kadar seperti dia, masih dianggap wajar jika dia suka nongkrong di plasa senayan, mal-mal bonafide, main dari kafe ke kafe, glamour, dan sebagainya.
Mengapa dianggap wajar?
Orang tuanya pegawai BUMN, dia bekerja di perusahaan nasional terkemuka, calon suaminya pemilik perusahaan konstruksi untuk fasilitas perminyakan. Ditambah lagi, jiwa sosialnya juga tinggi… menghabiskan ratusan ribu rupiah per hari untuk belanja baik untuk bersenang-senang maupun untuk sosial, adalah wajar.
Ceritanya hasil wawancara ini dimuat di koran, tetapi gaya penulisan si wartawan, malah menyoroti hal yang berbeda: yaitu menyimpulkan bahwa bekerja di perusahaan kami bisa menghambur-hamburkan uang untuk bersenang-senang! Lho!?
Ujung punya ujung, cerita ini mampir juga di telinga Number One perusahaan kami. Gerah juga mungkin ya denger hal seperti ini. Sebenarnya anak-anak muda perusahaan kami juga pernah bikin gerah para bos-bos itu sebelumnya.
Beberapa pekerja muda senang bermain golf, atau suka makan di resto-resto, dan seringkali diajak oleh rekanan seusia dari kontraktor-kontraktor untuk berlatih golf bersama dan makan-makan bersama. Memang bukan acara resmi yang tersangkut langsung dengan perusahaan. Tetapi ternyata, ulah para rekanan itulah yang bikin kami ditegur. Pasalnya mereka menraktir kami gratis tetapi dicharge sebagai relationship expenditure kepada kantor mereka. Karena perusahaan rekanan adalah kontraktor dari perusahaan kami, otomatis semua biaya pengeluaran mereka akan ditagih ke perusahaan kami. Waduh!
Sst… bisik-bisik aja ya… katanya kalau hal ini terjadi di eselon atas dari perusahaan, ngga pernah ribut-ribut seperti ini. Namun karena ini melanda para pekerja muda…
Ups ga boleh ghibah kan. Hehehe...
Alhasil, manajemen based emotion menetapkan bahwa POKOKnya para pekerja muda harus diasingkan dari peradaban selama 3 bulan tanpa boleh kembali ke pulau jawa, khususnya republik jakarta. Dan program ”pengasingan” tersebut dinamakan OJT.
LHO!?
Ya, benar akhirnya program orientasi bagi para pekerja muda dibuat kelanjutannya. Eh iya. Saya belum ceritakan kalau di awal masuk kerja dulu ada orientasi pekerja baru. 2 minggu belajar di kelas, 2 minggu belajar di lapangan. Untuk kelas berlangsung dengan baik, namun untuk lapangan tidak berjalan baik karena programnya kurang terarah.
Atasan-atasanku mengetahui kekurangan orientasi tersebut dan mengajukan usulan yang jauh lebih baik untuk pembinaanku dan teman-teman. Usulan ini sudah diajukan jauh sebelum kejadian-kejadian di awal, namun tidak menjadi prioritas untuk diperhatikan oleh bagian sumber daya manusia.
Lalu ketika dimunculkan rencana ”pengasingan 3 bulan” itu, para atasanku kembali mempertanyakan nasib usulan mereka (usulan mengenai pembinaan, berisi tentang kurikulum yang lebih spesifik berikut target-target yang hendak dicapai, dan cara penilaian keberhasilan program serta anggarannnya, komplit). Ternyata terdengar bahwa, sebuah divisi menolak program OJT. Waduh!
Siapa yang menolak ya?
Usut punya usut, hal itu karena program OJT yang didukung oleh Number One, ternyata tidak memiliki struktur program dan target yang jelas berikut dengan penilaian keberhasilannya. Tetapi karena program OJT is a must, dan tidak terbantahkan, maka usulan yang baik dari para atasanku itu tertolaklah.
[Catatan:
Sebelum saya melanjutkan, agar menjadi concern bersama bahwa apa yang tertulis pada tulisan ini menjadi lesson learnt yang baik untuk kemajuan. MOHON membuat persepsi yang baik dan segala prasangka agar dikomunikasikan supaya tidak membuat preseden buruk di masa depan.]
*
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment